mo.post.ern.mod [I]

•June 12, 2009 • Leave a Comment

Fenomena posmodernisme telah membawa paradigma baru dalam kehidupan manusia Indonesia. Budaya konsumerisme, sinetronisme, adiksi televisi dan candu akan citra  secara tak sadar membetuk manusia-manusia Indonesia sebagai minimalist-minimalist postmodern yang tanpa identitas. Terjebak di tengah-tengah budaya nasional yang semakin luntur dan geliat westernisasi modern yang makin absurd. Penciptaan ide dan pencarian identitas menjadi sebuah hal yang ‘tidak usah’, tidak harus, tidak perlu. The pop culture hypnotism, some-sophistication euphoria. Wacana yang diteriakkan untuk melestarikan budaya lokal hanyalah wacana yang kemudian diredam kembali ketika musik-musik pop cinta sembilu dikumandangkan. Homo Ironia, si munafik, yang sadar akan membawa tragedi tetapi tetap saja hidup di dalamnya dan membangun kehacuran itu semata-mata demi eksistensi diri – pengakuan – dalam  suatu komunitas dan ilusi prestisius yang buram. Manusia-manusia yang tidak berdaya dalam kekuasaan objek, sehingga diperbudak oleh belongings mereka sendiri yang harusnya dimiliki, bukan memiliki mereka. Citra dan fashion dianggap sebagai realitas yang paling realistis. Mematikan pikiran-pikiran kritis, mematikan identitas, dan pada waktunya nanti mematikan peradaban.

Di sisi lain postmodern pluralist mencoba memberikan opsi dimana budaya-budaya lokal dan nasioal turut dihargai  – dimana juga  turut mengusung konteks multikulturalisme di dalamnya Pluralisme menghadirkan perspektif dari banyak sudut pandang serta memberikan penghargaan kepada ekspresi, bentuk, norma, makna, etis dan nilai-nilai budaya yang dikesampingkan oleh minimalisme, dan menyerahkan kembali kepada masing-masing individu manusia untuk menginternalisasikannya. Pluralisme menghadirkan dialog-dialog dimana terdapat usaha untuk saling memahami sehingga tercipta kesalingpahaman yang bersifat mutual, aktif dan tidak pasif seperti minimalisme, walaupun tetap mengacu kepada induk yang sama yaitu posmodernisme yang menjauhkan usaha untuk membangun konsensus universal, dan berpijak seperti titik pendar diluar kekakuan bahasa dan masalah-masalah linguistik.

Alkulturasi dalam Arsitektur Aula Barat ITB

•June 12, 2009 • Leave a Comment

 

 Alkulturasi merupakan proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu.

Aula Barat ITB sebagai salah satu bangunan kolonial yang dikawinkan dengan lokalitas nusantara menandai kelahiran dan pergerakan dari arsitektur modern Indonesia, merintis sebuah wacana baru: perpaduan langgam arsitektur Barat dengan bentuk arsitektur tradisional atau lokal Nusantara. Ia menjadi sebuah statement atas alkulturasi dua budaya, barat dan timur, Belanda (arsitektur eropa) dengan lokal Indonesia, serta menjadi salah satu penanda dan identitas kota Bandung, sebuah daya tarik yang sampai kini masih difungsikan dengan baik. Baik tampak eksterior maupun interiornya dapat memaparkan dengan baik bagaimana  H.M. Pont, arsiteknya,  membawa pengaruh arsitektur modern Eropa dan juga mempertahankan budaya lokal Indonesia pada bangunan tersebut.
 

Pada periode tahun 1900 sampai dengan 1920-an muncul sebuah statement dari sebuah gerakan politik yang dipelopori oleh Van de Venter yang memunculkan Politik Etis (Ethische Politik) yang terlahir dari protes terhadap pemerintah Belanda tentang keuntungan penerapan tanam paksa (Culturestelsel) selama 40 tahun. Hal ini kemudian melahirkan usaha balas jasa pemerintah Belanda terhadap penduduk pribumi  di Hindia belanda (Indonesia) dengan perbaikan irigasi, sanitasi lingkugan serta dibangunnya sekolah-sekolah, rumah sakit, dan bangunan publik lainnya oleh arsitek-arsitek Belanda yang membawa pengaruh kepada gaya arsitektur Indonesia.

Seiring dengan kemunculan arsitektur-arsitektur Belanda pada tanah nusantara, khususnya yang membawa aliran Modernisme yang berkembang pesat di Eropa dan Amerika, muncul pula kritik terhadap arsitektur pra-era ini dan usulan mengenai pentingnya pengaruh arsitektur lokal baik dari gaya maupun bahan untuk dapat dikembangkan menjadi gaya arsitektur baru di Hindia Belanda. Pemikiran-pemikiran inilah yang kemudian mempengaruhi beberapa arsitek-arsitek Belanda yang membawa arsitektur modern di Indonesia kepada masa transisi kepada aliran yang menggunakan adaptasi lokal yang sering disebut sebagai aliran Hibrida atau Arsitektur Hibrid.

Arsitektur Hibrid lahir sebagai kompromi atas politik masa kini (kolonialisme) dan keterikatan dengan sejarah masa lalu (tradisi). Hibriditas menjadi penanda produktifitas kekuasaan kolonial sekaligus pergeseran kekuasaan dan kestabilan (Bhabha 1994). Namun arsitektur hibrid kolonial bukan hanya berkenaan dengan kehadiran kolonial saja. Kehadirannya juga merupakan suatu bentuk evaluasi dan tantangan atas dominasi identitas kolonial yang berlaku. Dengan menjadi hibrid, arsitektur kolonial tidak lagi merujuk pada represi secara negatif dan materialis melainkan mengangkat serangkaian hubungan-hubungan ideologis yang kompleks dan ambigu, ia juga merupakan rekayasa sempurna ketika seni bangunan Barat mencoba tanggap terhadap kondisi lokal. Ia merupakan gerakan pembaharuan dalam arsitektur nasional dan internasional, yakni upaya mencari identitas arsitektur kolonial Belanda di tanah jajahan yang juga merujuk pada arsitektur tradisional Nusantara (Jawa).

Perkembangan ini tidak lepas dari nama seperti Ed Cuypers, PAJ Moojen, dan Henri Maclaine Pont. Ketiganya merupakan arsitek yang berhasil merintis wacana dan memadukan langgam arsitektur Barat dengan bentuk arsitektur tradisional atau lokal Nusantara, yang mana pada perkembangannya kemudian sering disebut sebagai Indo-Europeesche Architectuur Stijl.

Menurut Charles Prosper Wolff Schoemaker, guru besar arsitektur Technische Hogeschool Bandoeng (ITB) tahun 1924-1938, ciri bangunan berlanggam arsitektur Indo-Eropa antara lain :

•    Sosok bangunan umumnya simetris
•    Memiliki ritme vertikal dan horizontal yang relatif sama kuat
•    Konstruksi bangunan disesuaikan dengan iklim tropis, terutama pada pengaturan ruang,masuk

      sinar matahari, dan perlindungan hujan

Pencarian bentuk arsitektur yang responsif terhadap kondisi iklim dan geografis setempat inilah yang membawa pada seni bangunan baru, yakni Arsitektur Indis.

Perbaikan desain yang dimunculkan pada Arsitektur Indis mencakup kontekstualitas dengan iklim lokal yaitu tropis basah. Hal ini bertujuan untuk memperhatikan aspek kesehatan yang selama itu terabaikan. Implementasinya terlihat pada:

  1. Penggunaan ventilasi sebagai jalur sirkulasi udara/angin agar memudahkan udara segar untuk masuk ke dalam ruangan menggantikan udara yang kotor
  2. Penggunaan jendela yang lebar dan tinggi, juga turut mendukung pertukara udara dalam ruagan
  3. Bentuk bangunan yag lebih ramping agar udara dalam ruangan cepat mengalir melalui bentilasi dan jendela
  4. Penambahan teritis selasar sepanjang dinding luar agar ruangan terlindung dari tampiasan air hujan dan sengatan sinar matahari

 Unsur atau semangat lokalitas yang mencakup segi iklim, budaya dan tradisi lokal terlihat melalui variable-variable berikut ini:

  1. Unsur tradisional Jawa
  2. Unsur candi
  3. Unsur iklim lokal (tropis basah)

 

DESKRIPSI BANGUNAN

Profil Bangunan

-           Nama: Aula Barat Institut Teknologi Bandung

-           Lokasi: Komplek Institut teknologi Bandung

-           Arsitek: Henry Maclaine Pont

-           Pemilik: Konsorsium, kemudian diserahkan kepada pemerintah dan sekarang menjadi milik Depdikbud RI

-           Dirancang: Tahun 1918 di Utrecht, Belanda

-           Dibangun: Mulai 1919 hingga 1920

-           Inisiatif: Nederlandsch Indie Weerbaar

-           Konsep: Pokok-pokok dalam penugasan yang diterima Maclaine Pont meminta: “Ruang-ruang yang fungsional, fleksibel untuk program yang bisa berubah, bentuk dan konstruksi yang baik serta tidak mahal”. Menanggapi tuntutan fleksibilitas program ini Maclaine Pont menetapkan akan mengadopsi penataan massa seperti yang ada di keraton-keraton Jawa, tersebar dengan selasar-selasar penghubung.

 

 

Pertama kali memasuki komplek kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) melewati gerbang masuk utama, kita akan mendapati dua buah bangunan yang mengapit dari kedua sisinya yang kemudian kita kenali sebagai Aula barat dan Aula Timur. Tampak luar dan eksteriornya begitu mudah dikenali dan sangat merepresentasikan keseluruhan dari eksterior bangunan-bangunan pada komplek kampus yang dahulu diberi nama Technische Hooge School ini.

Pada awalnya, Pont memulai proyeknya dengan mengkaji sistem konstruksi bangunan di Jawa, kemudian mengajukan pendapatnya sendiri tentang sistem konstruksi tersebut sesuai nilai-nilai teknologis modern. Berdasarkan telaah inilah ia kemudian menjelajahi kemungkinan mengembangkan sistem konstruksi Jawa untuk mengakomodasikan fungsi-fungsi bangunan baru, skala aktivitas baru, dan metode produksi baru.

Henry Maclaine Pont mengkombinasikan unsur-unsur (dekorasi dan konstruksi) tradisional dengan arsitektur kolonial (Belanda/Eropa) berbahan kayu, batu-bata, dan batu alam. Seakan-akan menjadi wadah penerjemahan bagi satu dan lainnya yang saling berkesinambungan.

Salah satu bagian yang paling menarik dari Aula Barat ini adalah atapnya. Atap bangunan itu sekilas serupa dengan atap bangunan Batak, tetapi disisi lain juga mirip dengan atap sunda, bahkan ada yang berpendapat bahwa atap dari Aula Barat tersebut mengadopsi desain atap bergonjong dari Padang, Sumatera Barat. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, apa yang ingin dicapai oleh Pont adalah atap tradisional Indonesia dan usaha (mungkin juga statement) untuk memasukan pengaruh lokal kedalam modernitas bangunan tersebut yang kemudian diintepretasikan sedemikian rupa, tidak masalah atap tradisional mana yang coba ditirunya.

Selain itu Pont juga memasukkan beberapa unsur candi yang tampak pada pengolahan tangga. Ia juga banyak bereksplorasi dengan bahan-bahan lokal sekitar dan teknik ekspos seperti misalnya pada kolom untuk menekankan tampak tradisionalnya sekaligus teknik baru yang modern.

Bila dilihat dengan seksama, pada bagian jendela kita akan menemukan pengaruh arsitektur modern Eropa yang banyak bermain dengan ornamen kaca warna-warni dan cukup dekoratif. Pencapaian tentang tujuan utama untuk perbaikan kesehatan dalam ruangan yang juga digabungkan dengan unsur atau semangat lokalitas, yaitu unsur iklim lokal (tropis basah), pun tidak ditinggalkan, terlihat dari ventilasi-ventilasi dan sirkulasi udara yang didesain sedemikian rupa agar udara dapat mengalir dan melakukan pergantian dengan lancar serta atap miring dan adanya teritis yang memang cocok untuk iklim Indonesia yang bercurah hujan tinggi.

Pada bagian interior, akan kita dapati struktur-struktur kayu lengkung yang di tata dan diekspos secara apik yang memperlihatkan teknologi pembuatan yang modern dan inovatif.

Sistem konstruksi ini membawa sebuah paradigma konstruksi baru pada era itu. Pada gambar nampak jelas terlihat bagaimana bahan-bahan lokal yang diolah dengan teknologi dan teknik modern dapat menghasilkan sesuatu inovasi yang apik dan sinergis. Ekspos kayu dengan desain susunan ala arsitektur modern eropa seakan memberikan wadah bagi akulturasi dua budaya tersebut.

Bila ditelaah, karakteristik ataupun ciri dari bangunan Aula Barat ini tampak memenuhi segala criteria yang pernah dipaparkan oleh Schoemaker tentang arsitektur Indo-eropa yang, yaitu:

•    Sosok bangunan umumnya simetris

 •    Memiliki ritme vertikal dan horizontal yang relatif sama kuat

 •    Konstruksi bangunan disesuaikan dengan iklim tropis, terutama pada pengaturan ruang, masuk sinar matahari, dan perlindungan hujan

 

      dari pelbagai sumber

alfabet lama.

•June 12, 2009 • 2 Comments

Mungkin kami tak pernah suka kepada alphabet-alfabet lama yang memagari pendar-pendar bias makna-makna ini.  Ini begitu merah hingga tak bisa terlihat apakah yang bukan dia. Begitu biru, hingga tak tau lagi apa itu biru. Mungkin juga warna-warna diantara hijau dan jingga yang tak akan bisa ditemukan. Dan mungkin pula hingar bingar yang tak pernah bisa terdengar.

 

Kami kalut dalam ketidakpastian.

Dalam kebingungan arti-arti baru yang silap tumpang tindih sekenanya.

Kemudian tersesat dalam garis-garis yang jelas terlihat.

Ketika mimpi-mimpi ini bukan lagi mimpi-mimpi.

 

Seperti mata-mata yang berteriak.

Penuh sesak.